Senin, 05 Juni 2017

Bobotoh dan Pernikahan

Apakah nilai sebuah klub sepak bola bagi para suporternya? Tentu sulit untuk diukur, sebab berbanding lurus dengan besar kecintaan para fans itu sendiri. Bahkan tidak ubahnya seperti sebuah hubungan pernikahan. 


Dewasa ini sebuah klub sepak bola tidak lagi menjadi konsumsi untuk masyarakat domestik saja. Sepak bola sudah menjadi industri yang menggurita di seluruh penjuru dunia. Bahkan Amerika Serikat yang menjadikan sepak bola sebagai olahraga 'kelas dua' pun tidak lagi menganggap sebagai alat untuk membuang keringat dan bersorak sorai semata. 

Di Indonesia, Persib Bandung merupakan salah satu klub yang mencoba bangkit dari tim semi-amatir, menjadi profesional. Dengan berisikan pemain-pemain terbaik yang kualitasnya tidak diragukan lagi, kucuran dana sponsor yang makin banyak, membludaknya para bobotoh di hampir seluruh penjuru Indonesia dan bahkan merambah ke luar negeri, infrastrukur klub serta pelabelan status sebagai salah satu unggulan kandidat jawara Liga Indonesia, maka tidak salah jika Maung Bandung suatu saat akan disandingkan dengan klub-klub raksasa di Asia atau bahkan Eropa. Hanya tinggal menunggu waktu untuk membuktikan diri di panggung Liga Champions Asia, lalu kemudian masuk ke kompetisi FIFA Club World Cup. 

Akan tetapi, selain harus terus mengembangkan dan memperbaiki diri, Persib pun mesti legowo dengan tingginya ekspektasi-ekspektasi dari para bobotoh. Sebab tinggihnya harapan para suporter, menjadi target yang wajib diwujudkan oleh klub. Kepuasan fans menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah klub. Tentu, kata sukses ini relatif, berbeda di tiap klub. Akan tetapi bagi tim sebesar Persib Bandung, maka menjadi jawara Liga Indonesia atau minimal bisa bersaing dengan ketat dengan klub-klub lain menjadi sebuah kepastian, kewajiban. Ibarat kata, suporter merupakan juri dan hakim bagi klub.

Tidak jarang para fans sebuah klub akan melayangkan cacian sebagai bentuk kekecewaan atas rasa cinta mereka. Rasanya hal tersebut normal, sebab suporter mana yang ingin melihat tim jagoannya hanya menjadi pecundang? Tidak ada. 

Akhir-akhir ini Persib menjadi sorotan para bobotoh karena performanya yang jauh dari ekspektasi sebelumnya. Bagaimana tidak, dengan mendatangkan pemain-pemain berlabel tenar, seperti Michael Essien dan Carlton Cole, Persib hanya bisa duduk di peringkat ke-11 klasemen sementara Liga Gojek Traveloka. Dengan hanya meraih tiga kali kemenangan dan dua kekalahan serta sisanya imbang, rasanya peringkat tersebut tidak pantas bagi Persib.

Besarnya tekanan membuat pelatih Djadjang Nurdjaman sempat meradang. Sayang, kekesalan pelatih yang disapa Djanur itu terkesan berlebihan. Dalam sebuah tayangan video wawancara, Djanur malah balik mempertanyakan komitmen para bobotoh. Blunder. 

Mungkin Djanur kehilangan kesabaran. Mungkin apa Djanur hanya kesal karena dirinya mendapatkan cacian dengan kata-kata kasar, yang tidak layak diucapakan, namun sejatinya para bobotoh melakukan hal tersebut berdasarkan rasa kecintaan. Bukan pula sebagai cara untuk tidak menghormati dirinya sebagai pelatih dan orang tua. Tidak juga sebagai jalan untuk menghinakan beliau sebagai pelatih yang sukses mempersembahkan titel juara Liga Indonesia, baik sebagai pemain dan juru taktik. Bukan. Percaya lah, rasa terima kasih atas kesuksesan membawa Persib menjadi juara Liga Indonesia tidak akan pernah luntur. Hanya saja situasinya saat ini sulit. 

Ketika Djanur berkata, "Apa yang telah kalian [bobtoh] lakukan? Saya sudah berbuat untuk Persib, dari [sejak] kecil," wah ini sudah kelewatan. Apakah Djanur lupa, para bobotoh yang rela menjual barang-barang berharganya agar bisa memiliki ongkos demi menjadi saksi sejarah final Liga Super Indonesia 2014? Atau mungkin lupa ada berapa orang yang harus meregang nyawa hanya karena berbaju Persib? 

Ketika mempertanyakan siapa yang lebih baik dibanding siapa, maka jawabannya akan relatif. Tiap pihak mempunyai peran tersendiri, sesuai dengan kapasitasnya. Djanur harus diakui telah berkontribusi bagi Persib, tapi bobotoh pun sama. Bahkan Persib bisa besar karena para bobotoh. Tanpa bobotoh, bukan tidak mungkin para sponsor akan menarik diri. Tidak dipungkiri, bobotoh menjadi barang jualan bagi Persib untuk sponsor, namun itu jamak terjadi dan biasa.

Saat ini bobotoh bukan hanya berasal dari daerah Jawa Barat saja. Sering dengan perkembangan zaman, sebutan bobotoh tidak eksklusif lagi dengan masyarakat Sunda atau Jawa Barat. Sebagai contoh, mertua penulis yang hanya menumpang lahir di Jawa Barat, tidak bisa berbahasa Sunda dan tinggal di pelosok Sumatera, tidak pernah melewatkan satu pun pertandingan Persib, meski hanya melalui tv satelit berbayar. Atau seorang warga negara Belanda bernama Thomas, yang rela terbang dari negara Kincir Angin ke Palembang demi menyaksikan final ISL 2014.

Di provinsi Bangka Belitung, perkembangan bobotoh makin meningkat, meski di daerah itu ada pula tim Divisi Utama, PS Bangka. Bahkan Viking Babel menjadi perkumpulan suporter klub lokal pertama dan satu-satunya di Negeri Serumpun Sebalai. Jika membandingkan anggota Viking Bangka dengan perkumpulan bobotoh lainnya yang ada di Pulau Jawa mungkin jauh. Tapi di Bangka, dan juga di daerah-daerah kecil lainnya, bobotoh selalu ada. Hanya karena terganjal alasan geografis dan finansial dengan Jawa Barat agar bisa menyaksikan Persib bermain secara langsung di stadion, tapi bukan berarti loyalitasnya diragukan. Malahan mengembangkan nama bobotoh atau Viking di daerah itu mempunyai kesulitan tersendiri, dan terkadang harus memakai kesamaan suku meski pada perkembangannya kemudian bobotoh tidak eksklusif terhadap suku Sunda semata. 

Mungkin pak Djadjang Nurdjaman belum pernah datang ke pelosok Pulau Bangka, yang koneksi internet masih terbatas, menyaksikan pertandingan melalui siaran televisi berbayar yang legalitasnya dipertanyakan dan hanya fasih berbahasa Sunda untuk kata "Persib nu aing" semata. Mungkin. Tapi tiga suku kata tersebut mencerminkan rasa kecintaan para suporter terhadap Pangeran Biru. Serupa dengan sebuah pernikahan, tidak ada istri atau suami yang menganggap dirinya berbuat lebih dibanding pasangannya. Sebab, mun geus mulai itung-itungan mah moal baleg kahareup na. 

Tidak ada komentar: